Taj Yasin: Moderasi Beragama untuk Keutuhan NKRI

  • Bagikan
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen
PAPARAN: Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat memberi sambutan acara Diseminasi Hasil Penelitian dan Deklarasi Moderasi Beragam, di salah satu Hotel Semarang, Rabu (24/11). (ISTIMEWA / LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, menyebut rasa saling menghormati antar umat beragama, akan berpengaruh pada pelaksanaan moderasi beragama. Menurut dia, berkembangnya moderasi beragama, akan mampu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Tadi sudah kita deklarasikan kesepakatan kita, bahwa moderasi beragama itu harus dijalankan untuk keutuhan NKRI, untuk keutuhan negara Republik Indonesia. Dan saya yakin, NKRI bukan hanya utuh, tetapi akan menuai kejayaan,” kata Taj Yasin dalam acara Diseminasi Hasil Penelitian dan Deklarasi Moderasi Beragam, di salah satu Hotel Semarang, Rabu (24/11).

Ia menilai, Indonesia bukan negara yang berdasar pada agama tertentu ataupun negara agama. Menurutnya, Indonesia adalah negara yang tidak memisahkan warganya dari agama di kehidupan kesehariannya.

“Indonesia ini negara yang (agamanya) beragam. Semua agama yang ada di Indonesia selalu Kehidupannya dihiasi dengan keagamaan. Kita lihat saja kalau kita makan. Yang Islam berdoa, yang Kristen Berdoa, yang protestan juga berdoa. Artinya meyakini bahwa apa yang kita makan ini sehat menurut kita dan kita harapkan sehat menurut Tuhan kita. Sehingga tidak ada permasalahan di kemudian waktu,” terangnya.

BACA JUGA:  Pemprov Jateng Minta Penanganan Jenazah Pasien Covid-19 Libatkan Modin

Di tengah masyarakat yang multi religius, Taj Yasin berpandangan, moderasi beragama penting. Dia memberikan catatan, yang dimoderasi bukan agamanya, tetapi penganut agamanya.

“Agama semua yang ada di Indonesia ini kaya-kayanya sudah moderat. Yang belum moderat itu yang penganut agamanya. Sehingga yang perlu dimoderasi itu adalah penganutnya atau pengamalnya,” tuturnya.

Lebih lanjut Taj Yasin mencontohkan, dalam kehidupan beragama di Indonesia, sesama penganut agama saja, bisa menganut aliran yang berbeda. Maka, di sini diperlukan moderasi beragama sebagai upaya untuk senantiasa menjaga, agar se-beragam apapun tafsir dan pemahaman terhadap agama, tetap terjaga sesuai koridor, sehingga tidak memunculkan cara beragama yang ekstrem.

“Kalau kita mau beragama dengan baik, nantinya apa? Orang yang beragama dengan baik, orang yang menjalankan agama itu, pasti memiliki ada adab. Ketika kita beradab, kita memiliki adab yang baik, kita akan saling menghormati. Dan ketika kita saling menghormati, agama itu akan jalan,” jelasnya. (hms/gih)

  • Bagikan