Lewat Sekolah Akutansi, Ciptakan Pesantren Good Goverment

  • Bagikan
ANTUSIAS: Pembukaan sekolah akuntansi untuk pesantren di Universitas Wahid Hasyim Semarang, Kamis (24/2). (ISTIMEWA / LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Sebagai respon atas Perpres Nomor 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pesantren, Yayasan Wahid Hasyim bersama Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, menggelar sekolah akutansi untuk kalangan pesantren. Pelatihan itu untuk menciptakan pesantren yang good goverment.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Yayasan Wahid Hasyim, Dr Noor Hadi saat ditemui usai acara pembukaan sekolah akuntansi di Universitas Wahid Hasyim Semarang, Kamis (24/2). Ia mengatakan, pihaknya berinisiatif membuat program sekolah akutansi ini setelah munculnya Perpers Nomor 82 Tahun 2021. Harapannya, bantuan dari pemerintah bisa dipertanggungjawabkan oleh pesantren.

Menurut Noor Hadi, bukan berarti pesantren itu tidak jujur atau tidak bisa pembukuan. Melainkan, pesantren harus paham terkait pembukuan keuangan negara dengan metode yang sudah diberikan lewat pelatihan itu.

“Jadi, sekolah akutansi ini bisa menjadi bahan pengembangan bagi santri yang akan terjun di masyarakat. Mereka dituntut memiliki kontribusi besar dalam pembangunan bangsa dan negara,” kata Noor Hadi sekaligus Wakil Rektor II IAIN Kudus itu.

Ia menjelaskan, pengelola pesantren wajib mendapatkan keterampilan dalam pengelolaan keuangan lembaga yang benar dan profesional. Berangkat dari situ, pihaknya memberikan pengetahuan akutansi yang praktis dan mudah dikerjakan agar tidak berbelit-belit.

BACA JUGA:  Sadar Mitigasi Bencana harus Dibangun Sejak Dini

“Dari situ, sekolah akutansi mampu menciptakan pesantren yang good goverment. Dan paham betul tentang akuntansi dalam membuat pertanggungjawaban keuangan pesantren,” tuturnya.

Pria yang menjabat sebagai Bendahara Umum Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ini mengakui, sekolah akutansi yang digelar selama tiga hari belum mampu memberikan peserta paham secara utuh. Sebab itu, pihaknya bersama timnya akan melakukan pendampingan kepada pesantren telah ikut.

“Pastinya ada tambahan lewat pendampingan kepada pesantren untuk menyusun laporan keuangan. Jika ada kesulitan bisa datang ke Unwahas, IAIN Kudus atau tim diminta tolong datang ke sana (pesantren) untuk membantu perbukuan akutansi. Tak hanya itu, kami siap mendampimgi pengembangan potensi yang ada di pesantren, misalnya enterprenership,” ujarnya.

Noor Hadi menyebut, keseluruhan peserta di setiap angkatan berjumlah sekitar 21 pesantren di Jateng, adapun targetnya ada 6 angkatan. Ia berharap, mereka serius belajar akutansi dan langsung diterapkan di pesantren masing-masing kabupaten/kota.

“Serius belajar, kemudian jika tidak tahu tanya dan kurang diaplikasikan, jangan hanya diam. Tetapi, beritahu ke kita supaya bisa diberi bantuan pengetahuan kembali, hingga akhirnya bisa pembukuan akutansi,” ucapnya. (dik/gih)

  • Bagikan