Harga Kedelai Naik, Pengerajin Tetap Produksi

  • Bagikan
TELITI: Keman sedang menata tempe yang sudah diolah di rumah produksinya di Jalan Madukoro, Semarang Barat, Selasa (1/3). (DICKRI TIFANI BADI/ LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Harga kedelai yang meroket tinggi di pasaran, memicu para pengerajin tempe di sejumlah daerah melakukan aksi protes mogok produksi. Namun, para pengerajin tempe di Ibu Kota Jawa Tengah enggan ikut memprotes seperti yang terjadi di sejumlah daerah lain.

Salah seorang pengerajin tempe, Keman (53) mengaku tidak ikut aksi mogok, karena lebih memilih produksi meski harga kedelai terus merangkak naik. Sebab, berjualan tempe merupakan pilihan pertama demi menyambung hidup.

“Yang penting dapet makan buat sehari-hari. Dari pada kerja yang lain juga tidak dapet-dapet,” katanya, yang memproduksi tempe di Jalan Madukoro, Semarang Barat, Selasa (1/3).

Ia memilih alasan itu karena rumah produksinya tidak bisa melakukan opsi pengecilan hasil olahan tempe. Pasalnya, Keman adalah seorang pengecer di Kota Semarang. “Tempenya kalo kecilin susah. Saya pengecer, harga satunya 11,500,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatan, hasil olahan produksi tempe milik Keman terbungkus daun pisang dengan ukuran telapak bayi. Dari situ, Keman tidak bisa melakukan penyesuaian berat meski harga naik.

Pengerajin tempe lain, Slamet (51) mengatakan langkah yang dilakukan saat harga kedelai naik yakni penyesuaian ukuran tempe. “Kalau mengurangi produksi enggak. Naikan harga juga tidak bisa, turun juga tidak. Bisanya mengurangi ukuran,” katanya.

BACA JUGA:  Tumbuhkan Nilai Kepahlawanan, Altruisme, serta Kebermaknaan Hidup

Ia menuturkan, kenaikan harga kedelai impor sejak Desember 2021 berdampak pada pengurangan ukuran dan kualitas produksi. Pasalnya, produk pangan berbahan dasar kedelai itu bergantung pada impor. “Jadinya produksi tempe menjadi terganggu akibat naiknya harga kedelai impor itu,” terangnya.

Selamet merinci, harga kedelai sebelumnya berada pada kisaran 7.800 per kilogram. Tetapi, kini melonjak mejadi 11,000  per kilogram. Akibat kenaikan tersebut, sehingga mempengaruhi ukuran dan kualitas tempe.

“Berat kedelai untuk satu papan tempe biasanya lima ons, sekarang jadi 4,5 ons. Pedagang di pasar ada yang mau ada yang enggak,” bebernya.

Tak hanya ukuran, bahkan Slamet menyesuaikan cara pencucian kedelai agar kulitnya tidak terbuang. Tujuannya untuk membuat berat tempe tetap sama. “Efeknya kualitas tempe jadi menurun. Agak keras dan kurang tahan lama. Tapi ya mau gimana lagi, cuma itu caranya,” lanjut Slamet.

Disinggung aksi mogok produksi, Slamet tak menampik. Ia juga sempat diajak namun dirinya memilih tetap produksi. “Beberapa daerah ada yang mogok produksi. Kalau saya tidak. Walau kedelai agak mahal sedikit, tidak apa-apa, tetap produksi,” ucapnya. (dik/gih)

  • Bagikan