Pemkab Batang Bersinergi Tangani Stunting

  • Bagikan
FOKUS: Wakil Bupati Suyono (tengah) saat mengikuti Webinar Nasional Pencegahan Stunting, di Comand Center Batang, Rabu (2/3). (HUMAS / LINGKAR JATENG)

BATANG – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Batang, bersinergi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) dan Dinas Kesehatan, untuk berperan aktif mengatasi stunting. Karena stunting hingga kini masih menjadi tema yang diperbincangkan untuk mencari solusi yang tepat.

Wakil Bupati Batang Suyono mengatakan, untuk merealisasikan penanganan stunting, salah satunya dengan menyiapkan anggaran. Jadi harus dipersiapkan seluruhnya, tidak hanya programnya saja. Sehingga seluruh program bisa terlaksana dengan adanya anggaran yang memadai.

“Jangan sampai cuma program. Selain anggaran, juga harus ada tindakan. Program itu harus jalan sampai bawah. Selain ada sosialisasi, juga harus diwujudkan dengan pemenuhan makanan-makanan sehat,” terangnya, usai mengikuti Webinar Nasional Pencegahan Stunting, di ruang Comand Center Batang, Rabu (2/3).

Ia menegaskan, pemenuhan gizi dan vitamin juga menjadi perhatian utama. Khususnya ibu hamil dari keluarga kurang mampu. “Semoga dengan sinergi antar dinas terkait ini bisa menekan angka stunting,” harapnya.

Sementara itu, Kepala DP3AP2KB Batang Supriyono menjelaskan, untuk reaksi penanganan stunting, seluruh instansi terkait akan membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) hingga tingkat desa. Nantinya tim akan menginventarisir daerah yang membutuhkan perhatian untuk penanganan stunting. Total ada tujuh kecamatan dan 25 desa.

BACA JUGA:  Tangani Banjir, Rencanakan Pembebasan 40 Hektare Lahan

“Kecamatan Blado adalah daerah yang paling perlu mendapat perhatian. Di sana akan kami lihat, desa-desa mana saja yang paling rawan stunting,” ungkapnya.

Adapun beberapa faktor penyebab stunting. Antara lain, sebagian warga tidak mengetahui menu-menu yang bergizi, keterbatasan ekonomi, dan pengetahuan terkait tumbuh kembang anak sejak di dalam kandungan.

“Sebetulnya di desa itu banyak menu sehat yang murah. Seperti, telur dan daging ayam. Tapi terkadang mereka kurang perhatian terhadap nilai gizi dari makanan yang dikonsumsi,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia memastikan, TPPS akan terjun ke lapangan. Dengan tujuan untuk mengedukasi warga, dengan memberikan sosialisasi menu sehat apa saja yang harus dikonsumsi saat hamil. (hms/all)

  • Bagikan